KISAH KETOET
Kisah-kisah semacam itu mengalir tiada akhir di Bali. Tetapi ilustrasi terbaik mengenai kedangkalan keyakinan pemeluk Kristen baru ini adalah percakapan antara seorang konvert muda dengan seorang pejabat yang tercerahkan :
- " Kenapa Ketoet boeang agama Bali?"
- " Sebab saja pertjaja".
- " Pertjaja apa?".
- " Saja pertjaja Toean Jesoes Kristoes".
- " Siapa Dia?".
- " Itoe Toean jang pake badjoe itam jang sering datang dari Lombok".
Akhirnya ganguan-ganguan demikian kentara dan missionaris Amerika itu harus angkat kaki dari Bali. Sampai saat itu missionaris Belanda menahan diri dari kegiatan di Bali. Tetapi ketika datang berita bahwa missionaris saingannya berhasil mendapat beberapa konvert, mereka bersemangat kembali dan berupaya agar undang-undang yang melarang kegiatan missionaris di Bali dirubah. Kontroversi pahit merebak di surat kabar-surat kabar di Belanda dan di Jawa bahwa para missionaris itu mengklaim tentang orang-orang Bali pada akhirnya sudah matang untuk dikonversi karena perasaan keagamaan mereka telah mantap. Seorang yang bernama Dr.Kraemer , kepala missionaris satu sekte Protestan, pergi ke Bali untuk menyelidiki dan setelah tinggal di pulau Bali selama lebih dari sebulan, menulis satu laporan tebal yang mana ia ingin membuktikan kegagalan agama Bali dan ide bahwa orang-orang Bali sejatinya ingin menjadi Kristen, tetapi dihalang-halangi oleh para intelektual Eropa yang tinggal di Bali. Argumen ini dengan cepat dijawab oleh Tjokorde Gede Rake Soekawati, wakil Bali di Volks-raad, " Istana Rakyat " di Batavia. "Penemuan" Dr.Kraemer yang penuh prasangka seluruhnya disikat oleh jawaban-jawaban dan analisis-analisis dan argumen-argumen dari para murid sejati Bali, orang-orang seperti Bosch, Goris, Korn, Lekkerkerker, De Bryun Kops dan Damste.
Dr. Goris menunjukkan bahwa pandangan dari para missionaris didasarkan atas prinsip bahwa semua manusia pada hakikatnya "buruk" dan dalam "konflik bathin" yang tidak punya harapan yang hanya dapat disembuhkan oleh satu merek agama khusus yang dikotbahkan oleh para missionaris.
Hanya menemukan bukti kecil dari "konflik bathin" di dalam orang-orang Bali, kaum missionaris ini menggosok-gosok permusuhan alamiah kelas-kelas lebih rendah melawan kelas warna lebih tinggi dan dengan memainkan kemiskinan mereka, dan dengan demikian mendorong pertentangan kelas dari pada menghapuskannya, sebagaimana kalim mereka. Cukup menarik perhatian, kaum missionaris yang sama, yang menuduh kedangkalan agama orang Bali, menyetujui konvert baru berdasarkan alasan kepura-puraan atau alasan-alasan palsu yang tidak mengerti apapun mengenai agama Kristen, kecuali beberapa istilah Melayu stempel karet.
Oleh : Miguel Covarrubias
Majalah Media Hindu








