Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

4.12.09

| | 0 comments | Read More

MISSIONARIS DI BALI ( Bagian 3 )

KISAH KETOET

Kisah-kisah semacam itu mengalir tiada akhir di Bali. Tetapi ilustrasi terbaik mengenai kedangkalan keyakinan pemeluk Kristen baru ini adalah percakapan antara seorang konvert muda dengan seorang pejabat yang tercerahkan : 
  • " Kenapa Ketoet boeang agama Bali?"
  • " Sebab saja pertjaja".
  • " Pertjaja apa?".
  • " Saja pertjaja Toean Jesoes Kristoes".
  • " Siapa Dia?".
  • " Itoe Toean jang pake badjoe itam jang sering datang dari    Lombok".
Akhirnya ganguan-ganguan demikian kentara dan missionaris Amerika itu harus angkat kaki dari Bali. Sampai saat itu missionaris Belanda menahan diri dari kegiatan di Bali. Tetapi ketika datang berita bahwa missionaris saingannya berhasil mendapat beberapa konvert, mereka bersemangat kembali dan berupaya agar undang-undang yang melarang kegiatan missionaris di Bali dirubah. Kontroversi pahit merebak di surat kabar-surat kabar di Belanda dan di Jawa bahwa para missionaris itu mengklaim tentang orang-orang Bali pada akhirnya sudah matang untuk dikonversi karena perasaan keagamaan mereka telah mantap. Seorang yang bernama Dr.Kraemer , kepala missionaris satu sekte Protestan, pergi ke Bali untuk menyelidiki dan setelah tinggal di pulau Bali selama lebih dari sebulan, menulis satu laporan tebal yang mana ia ingin membuktikan kegagalan agama Bali dan ide bahwa orang-orang Bali sejatinya ingin menjadi Kristen, tetapi dihalang-halangi oleh para intelektual Eropa yang tinggal di Bali. Argumen ini dengan cepat dijawab oleh Tjokorde Gede Rake Soekawati, wakil Bali di Volks-raad, " Istana Rakyat " di Batavia. "Penemuan" Dr.Kraemer yang penuh prasangka seluruhnya disikat oleh jawaban-jawaban dan analisis-analisis dan argumen-argumen dari para murid sejati Bali, orang-orang seperti Bosch, Goris, Korn, Lekkerkerker, De Bryun Kops dan Damste.
 
Dr. Goris menunjukkan bahwa pandangan dari para missionaris didasarkan atas prinsip bahwa semua manusia pada hakikatnya "buruk" dan dalam "konflik bathin" yang tidak punya harapan yang hanya dapat disembuhkan oleh satu merek agama khusus yang dikotbahkan oleh para missionaris.

Hanya menemukan bukti kecil dari "konflik bathin" di dalam orang-orang Bali, kaum missionaris ini menggosok-gosok permusuhan alamiah kelas-kelas lebih rendah melawan kelas warna lebih tinggi dan dengan memainkan kemiskinan mereka, dan dengan demikian mendorong pertentangan kelas dari pada menghapuskannya, sebagaimana kalim mereka. Cukup menarik perhatian, kaum missionaris yang sama, yang menuduh kedangkalan agama orang Bali, menyetujui konvert baru berdasarkan alasan kepura-puraan atau alasan-alasan palsu yang tidak mengerti apapun mengenai agama Kristen, kecuali beberapa istilah Melayu stempel karet.
 
 
Oleh : Miguel Covarrubias
Majalah Media Hindu
| | 0 comments | Read More

MISSIONARIS DI BALI ( Bagian 2 )

MERASA DITIPU

Tetapi segera para pengikut Kristen baru itu menemukan bahwa mereka telah ditipu, mereka harus membayar pajak sama seperti sebelumnya, tidak disukai oleh masyarakat desanya dan dikucilkan. Di Mengwi, di mana para misionaris memperoleh suksesnya yang terbesar, para penguasa menolak membebaskan mereka dari kewajiban-kewajiban mereka, menyebabkan konflik tanpa akhir dengan banjar dan subak. Tuntutan hukum diajukan dan kekacauan dimulai. Di banyak desa dibuatkan awig-awig (aturan tertulis) yang menentukn orang-orang yang tidak setia denga agama Bali/Hindu, dinyatakan "mati". Sangkep-sangkep (rapat-rapat) diadakan untuk membicarakan kemungkinan menghukum mereka dengan membuang mereka ke tempat jauh seperti Jemberana bersama dengan para "kriminal" lainnya.

Orang-orang Kristen mulai prihatin ketika mereka menemukan mereka tidak dapat menguburkan keluarga mereka yang meninggal, karena dilarang menguburkan mereka di kuburan desa, atau tempat lainnya, termasuk tanah milik mereka sendiri.

Ketegangan semakin terasa dan kerusuhan hampir terjadi. Para kepala desa mulai bicara dengan mereka dan berhasil mengembalikan beberapa kepala keluarga kepada agamanya semula.

Yang khas adlah Pan Luting ( Loting dalam tulisan Surpi ), seorang kepala desa, pengikut baru yang membantu misionaris untuk meningkatkan jumlah pengikutnya. Dia menyesal, menyatakan bahwa dia telah ditipu, dan sebagai penari topeng terkenal, dia sekarang tidak pernah melewatkan kesempatan untuk mengejek, membuat lelucon mengenai para misionaris dan mengekspresikan kebahagiannya karena tidak lagi menadi Kristen. Seorang pemuda membelot dari seorang misionaris ketika dia mendapati penyakit spilis yang dideritanya tidak kunjung sembuh setelah mengucapkan formula magic " Saja pertjaja Jesoes Kristoes" sebagaimana yang diharapkan ( atau yang dijanjikan kepadanya ).

Lagi, seorang konvert yang merasa segera akan mati cepat-cepat membuang agama barunya ketika balian desa menolak mengobatinya, dengan mengatakan mantranya tidak akan bisa menyembuhkan orang Kristen. Dia sembuh dan tidak perlu dikatakan lagi, dia membuat upacara besar dan pesta ucapan terimakasih.


Oleh : Miguel Covarrubias
Majalah Media Hindu

| | 0 comments | Read More

MISSIONARIS DI BALI ( Bagian 1 )

JANJI PERBAIKAN EKONOMI

Sepanjang abad yang lalu, seluruh upaya untuk meng-kristen-kan orang Bali telah gagal, orang Bali yang pertama menjadi Kristen sudah sangat di kenal. Karena gagal mendapat pengikut baru, dianggap mati dan diusir oleh masyarakatnya, ia lalu membunuh tuannya, membuang agamanya yang baru dan menyerahkan diri kepada desanya untuk di hukum menurut adat Bali. Skandal ini menyebabkan Belanda tidak mengijinkan kegiatan missionaris di Bali.

Tetapi ini tidak menghentikan para missionaris, ijin diberikan lagi kepada mereka pada tahun 1891, 1920 dan 1924, ketika Katolik Roma meminta konsesi khusus. Tetapi gelombang penolakan dari orang-orang Bali menggagalkan upaya ini. Pertemuan-pertemuan dilakukan oleh para pemimpin Bali untuk "menghentikan bencana besar ini" dan karena itu ijin itu dibatalkan.

Tetapi pada akhir 1930 para missionaris Amerika berhasil mendapat ijin masuk, dengan alasan hanya untuk memelihara jiwa-jiwa yang sudah diselamatkan dan bukan mencari pemeluk baru. Tetapi secara diam-diam dan tidak menarik perhatian mereka mulai bekerja di antara kelas-kelas terbawah masyarakat Bali. Para misionaris awal yang lebih tulus berupaya mencari pengikut baru berdasarkan keyakinan dan akibatnya mereka gagal. Tapi para misionaris yang datang belakangan menginginkan hasil yang lebih cepat dan menggunakan cara-cara yang lebih efektif. Mengambil keuntungan dari krisis ekonomi yang sudah terasa di Bali, mereka menjanjikan sasarannya yang miskin bahwa perubahan ke agama Kristen akan membuat mereka bebas dari masalah keuangan. Satu-satunya yang mereka harus lakukan hanya mengucapkan formula - "Saja pertjaja Jesoes Kristoes"

Bila orang yang terbujuk mengucapkan kalimat magic ini adalah kepala keluarga, misionaris itu mengklaim setiap anggota keluarga itu sebagai Kristen dan segera mereka menyombong telah mendapat 300 konvert.


Oleh : Miguel Covarrubias
Majalah Media Hindu

27.10.09

| | 0 comments | Read More

KARMA ( bagian 4 )

IMPLIKASI KEYAKINAN ATAS PRILAKU

Kepercayaan terhadap karma seharusnya membawa implikasi-implikasi kepada prilaku suka bekerja keras, bertanggung jawab dan jujur.
  1. Bekerja keras/rajin :karena dengan bekerja lebih keras ia menjadi manusia yang lebih baik. Kebahagiaan terletak pada upaya, makin besar upaya, makin besar kebahagiaan.
  2. Bertanggung jawab :jika terjadi sesuatu yang buruk, orang yang percaya pada karma, pertama akan melakukan interospeksi atau mulat sarire, apa yang salah pada dirinya. Ini tanda ia mengakui tanggung jawabnya dan ingin memperbaiki kesalahan itu. Dia tidak akan menyalahkan pihak lain (Tuhan,Setan atau yang lainnya). Sekalipun pihak lain mungkin merupakan salah satu faktor, tetapi ia tidak dapat memperbaiki mereka.
  3. Jujur : karena kalau berbuat tidak baik, hasil buruk akan menimpa orang tersebut. Dalam karma tidak ada penebusan dosa melalui ibadah, misalnya puasa. Upawasa, tapa,samadi bahkan sembahyang, adalah untuk kepentingan kita, untuk kejernihan, ketenangan dan kedamaian pikiran dan hati, untuk kesehatan mental kita, untuk memperdalam spiritualitas. Sama seperti olah raga untuk memperkuat badan orang tersebut, bukan untuk menyehatkan Tuhan. 
Ada yang mengajarkan bahwa ibadah itu karena dan untuk Tuhan. Ini adalah cara beragama kanak-kanak. Waktu kanak-kanak ,kita makan, mandi atau belajar karena takut kepada orang tua. Tetapi setelah dewasa, kita melakukan semua itu karena sadar akan manfaatnya bagi diri sendiri.

Faktor lain, pengadilan karma, oleh hati nurani, berjalan sepanjang waktu. Tidak ada pengadilan akhir yang tidak pasti kapan akan terjadi.

Oleh: Ngakan Putu Putra
Media Hindu

26.10.09

| | 0 comments | Read More

KARMA ( bagian 3 )

Menjawab Pertanyaan Fundamental

Karma berkaitan dengan pertanyaan : Mengapa manusia di dunia ini sangat berbeda?. Ada yang baik tapi menderita. Ada yang kurang baik, tetapi hidupnya baik-baik saja?. Ini jelas tidak adil. Perbedaan atau ketidak-adilan ini bahkan mulai sejak lahir. Ada yang lahir sehat, tampan dan pintar di rumah orang berada atau berkuasa. Ada juga sebaliknya. Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan mendasar ini.


Pertama....
Takdir. Tuhan telah menetapkan nasib setiap manusia sebelum mereka lahir ke dunia ini.
          " Orang-orang kaya denga istananya,
            Orang-orang miskin di bawah jembatan,
            Tuhan meninggikan dan merendahkan mereka,
            Dan telah menetukan tanah mereka".
( All thing bright and beautiful, lagu rakyat Inggris ).


Dalam agama Islam dijelaskan ketika jabang bayi berusia 40 hari di kandungan ibunya, Allah meniupkan roh, dan ketika itu juga ditentukan nasibnya. Bila Allah mengusap punggung kanan, anak itu kelak akan bahagia atau menjadi orang berkuasa dan kaya dan ketika mati, setelah hari kiamat dan pengadilan akhir akan menjadi penghuni sorga. Sebaliknya bila Allah mengusap punggung kiri, anak itu kelak akan menderita atau menjadi jahat dan ketika mati, disiksa di alam kubur, setelah hari kiamat dan pengadilan akhir akan menjadi penghuni neraka.


Ini sangat tidak masuk akal. Untuk apa ada pengadilan , bila seseorang sudah ditakdirkan sebelum kelahirannya? Dan mengapa seseorang yang ditakdirkan menjadi jahat, harus dihukum sepanjang masa, padahal ia hanya menjalani saja takdir Allah yang tidak dapat diubahnya? Takdir sewenang-wenang dan kejam!.


Kedua....
Terjadi begitu saja. Orang-orang Ateis, mengatakan manusia terlempar begitu saja ke dunia ini. Tidak ada Tuhan yang memberi takdir. Jadi apa yang menimpa, baik atau buruk, semuanya kebetulan saja, orang baik bisa saja menderita. Orang-orang jahat bisa saja berjaya. Semua itu kebetulan saja. Tidak ada yang namanya kepastian hukum atau keadilan. Tidak di dunia ini, tidak pula di dunia setelah kematian. Karena tidak ada dunia setelah kematian. Tidak ada yang tinggal setelah kematian. Semuanya habis. lenyap begitu saja. Hidup ini absurb , kata pengarang Prancis, Albert Camus. Kalau dilihat dari perspektif jangka pendek, bahwa hidup ini hanya satu kali dan singkat, tanpa kepercayaan akan kehidupan sebelum dan sesudahnya, apa yang dikatakan Camus, pendukung filsafat eksistensialis itu memang benar.


Ketiga......
Karma dan Reinkarnasi. Para filsuf Ateis, menekankan tanggung jawab manusia kepada dirinya sendiri. Karl Marx mengatakan: " Manusia dipandang sebagai pencipta dirinya sendiri sekaligus pembebas dirinya sendiri. manusia sendiri yang menentukan nasibnya di dunia ". Nietzsche bahkan terkesan percaya akan reinkarnasi: "Ubermensch akan menggantikan posisi Tuhan, karena ia sendiri menentukan apa yang baik bagi dirinya, serta percaya akan kembalinya segala sesuatu secara sama".Jean Paul Sartre mengatakan: "Orang-orang harus menerima beban dari tindakannya dan tidak seorangpun dapat menanggung untuk dirinya". Sartre menolak penebusan dosa oleh kematian orang lain. Sampai tahap tertentu doktrin humanisme ateis mereka mirip dengan hukum karma. Namun karena mereka tidak percaya dengan kehidupan setelah mati, teori mereka tentang tanggung jawab manusia tampak terbatas dan tidak memuaskan. Kalau ada seorang yang berbuat jahat, tetapi karena kekuasaan politik, ekonomi maupun agama, tidak diadili di dunia ini sampai mati, lalu apa makna tanggung jawab di sini?


Sedangkan hukum karma tidak terbatas hanya dalam satu kehidupan. Setiap orang pasti akan menerima hasil dari tindakannya. Apabila tidak dalam kehidupan ini, akan diterima dalam kehidupan yang akan datang. Arnold Toynbee mengatakan, karma dan reinkarnasi lebih rasional dari takdir dan kebangkitan tubuh.


Dasar.
Dasar dari hukum karma dalam agama Hindu dapat ditemukan dalam Sruti dan juga Smerti . Berikut salah satu saja:
"Bagaimana kehendaknya demikianlah perbuatannya. Bagaimana perbuatannya demikianlah manusia jadinya. Ia yang berbuat baik menjadi baik, Ia yang berbuat buruk menjadi buruk". Brhadaranyaka Upanisad. 4.4.5.
"Individu dan perbuatannya bukanlah dua hal yang terpisah, pribadi itu adalah perbuatannya dan perbuatan adalah pribadi itu sendiri. Ia merupakan satu kesatuan". Yoga Vasista.
William James, seorang filsuf Amerika Modern juga bicara tentang karma: "Tanamlah satu perbuatan dan dapatkan satu kebiasaan. Tanamlah satu kebiasaan dan dapatkan satu karakter. Tanamlah satu karakter, maka kamu akan memetik nasibmu sendiri".





Oleh : Ngakan Putu Putra
Media Hindu

17.10.09

| | 0 comments | Read More

KARMA ( bagian 2)

"Tanamlah satu perbuatan dan dapatkanlah satu kebiasaan."
"Tanamlah satu kebiasaan dan dapatkanlah satu karakter"
 "Tanamlah satu karakter, maka kamu akan memetik nasibmu sendiri"


Karma dalam keyakinan agama


Keselamatan atau masuk sorga karena iman atau keyakinan semata, sering dipropagandakan oleh penganjur agama-agama Kristen atau Islam. Hanya melalui Yesus, manusia mencapai Bapa (sorga). Islam satu-satunya agama yang diterima di sisi Allah. Artinya hanya orang yang berkeyakinan Islam yang diterima masuk sorga oleh Allah. Tetapi dengan dogma semacam ini menimbulkan pertanyaan. Betulkah hanya dengan keyakinan seseorang masuk sorga?. Apakah perbuatan seseorang tidak menentukan , apakah akan masuk sorga atau neraka?. Tidak!. Karena kalau perbuatan menentukan semua orang yang berbuat baik, apakah ia Kristen atau Islam atau kafir akan masuk sorga. Ini melanggar monopoli ekslusif atas sorga yang mereka klaim telah diberikan oleh Tuhan mereka hanya kepada mereka masing-masing. Apakah seorang Kristen atau Islam yang menjadi pembunuh akan masuk sorga hanya karena mereka Kristen atau Islam?. Bila dasarnya adalah iman, maka jawabannya adalah "YA".


Ryan ( Very Idham Henyansyah ) adalah seorang muslim dan pernah menjadi guru mengaji anak-anak di desanya di Jombang. Ia terbukti membunuh sekitar 10 orang, sebagain besar adalah pemeluk Islam. Setelah mati, setelah hari kiamat ( Yaum al Qiyama ), setelah pengadilan akhir ( Yaum al Din ) ia akan masuk sorga, karena semata-mata ia adalah seorang muslim. Keluarga korban pasti menganggap ini tidak adil. Bahkan sekalipun para korban yang juga Islam masuk sorga, tetap saja hati nurani kita menyatakan tidak adil, bila seorang pembunuh masuk sorga bersama korban-korban yang dibunuhnya.




Oleh: Ngakan Putu Putra
Media Hindu

15.10.09

| | 1 comments | Read More

KARMA ( bagian 1)

"Tanamlah satu perbuatan dan dapatkanlah satu kebiasaan."
"Tanamlah satu kebiasaan dan dapatkanlah satu karakter"
 "Tanamlah satu karakter, maka kamu akan memetik nasibmu sendiri"


Bagaimana menentukan seseorang itu miskin?. Apa kriteria seseorang disebut miskin?. Kriteria ini diperlukan oleh pemerintah untuk memberi bantuan langsung tunai (BLT) terkait dengan kenaikan harga BBM. Para ahli dari berbagai bidang dikumpulkan, berbagai teori dibahas, akhirnya disimpulkan seorang atau satu keluarga disebut miskin bila rumahnya masih berlantai tanah.

Di Yogyakarta ada satu desa yang sebagaian besar rumah penduduknya berlantai tanah, sekalian mereka punya sawah atau ladang, walaupun tidak luas. Mereka dapat BLT, karena rumah mereka berlantai tanah. Di desa ini ada seorang kepala keluarga yang boleh dikatakan miskin, karena tidak punya sawah atau ladang, tapi tidak dapat BLT, karena rumahnya yang kecil berlantai semen. Bagaimana bisa?. Ia adalah seorang buruh bangunan. Ketika bekerja di satu proyek di kota, ia mencuri semen sedikit-sedikit di bawa pulang. Anaknya disuruh mencari pasir di sungai. Dengan cara ini ia mempunyai rumah berlantai semen. Namun karena itu, ia tidak mendapatkan bantuan langsung tunai (BLT) yang sangat dibutuhkan. Karma bekerja dengan caranya sendiri. 

Ini terjadi di Australia. Seorang bhiku Budha, Ajahn  Brahm, sering mengajar meditasi kepada narapidana di penjara Perth, Australia Barat. Suatu hari setelah sesi meditasi seorang narapidana yang cukup dikenalnya, mendatanginya. Ia menyatakan bahwa ia telah dihukum karena kejahatan yang tidak dilakukannya. Bhiku itu mempercayainya dan mulai berpikir, bagaimana memperbaiki ketidak-adilan ini. Tetapi narapidana itu menyela pikirannya. "Tetapi Brahm, ada banyak kejahatan lain yang saya perbuat, tapi saya tidak ditangkap, jadi apa yang terjadi sekarang ini memang adil".Bhiku itu tertawa terbahak-bahak. "Rupanya Sang Bhiku ini memahami hukum karma, bahkan lebih baik daripada beberapa bhiku yang saya kenal". gumam si narapidana.


Dua kisah di atas dapat disebut sebagai karma dalam operasional sehari-hari. Karma berlaku terhadap siapa saja, di mana saja, terlepas dari orang tersebut percaya atau tidak atas hukum karma tersebut. 

Oleh : Ngakan Putu Putra 

12.10.09

| | 1 comments | Read More

KESABARAN + KASIH SAYANG = KEDAMAIAN

Kesabaran adalah suatu ungkapan yang mudah bahkan sangat mudah untuk diucapkan, namun sulit untuk dilakukan dalam kehidupan. Sebab dalam prakteknya, kesabaran membutuhkan perjuangan agar dapat mengalahkan egoisme dalam diri. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kesabaran itu harus dimiliki oleh setiap orang atau dengan kata lain, mengapa kita harus menjadi orang yang sabar? Apa yang akan kita dapatkan dengan bersikap sabar?.


Kekayaan yang berlimpah , pendamping hidup yang cantik atau tampan, pengetahuan yang tinggi belum tentu membuat kita bahagia. Di jaman sekarang ini mungkinkah kedamaian itu kita rasakan?. Setiap saat kita mendengar atau bahkan merasakan peristiwa-peristiwa yang sangat membuat hati terasa miris. Terjadi berbagai macam kejahatan, kemiskinan, bencana alam dan lain-lain. Dalam keadaan demikian bisakah kita bersabar menghadapi kenyataan itu?. Berbagai peristiwa itu kadang membuat kita merasa lemah dan putus asa.

Namun dalam keadaan demikian, satu ungkapan muncul dari dalam kesabaran. Swami Vivekananda mengajarkan bahwa, manusia harus berani dan bekerja seperti singa. Manusia tidak boleh memiliki rasa takut. karena ketakutan adalah dosa besar yang menunjukkan bahwa ia lemah. Ketakutan dan kelemahan adalah mental budak yang akan membawa pada kematian.

Semua itu harus kita kembalikan pada diri kita sendiri karena sesungguhnya semua itu dapat terjadi sebagai akibat dari ketidakmampuan  kita mengendalikan diri. Kesabaran membutuhkan perjuangan untuk dapat mengalahkan egoisme atau AHAMKARA dan hawa nafsu yang ada dalam diri.

Hidup harus terus dijalani. Menghindar dari masalah bukanlah jalan yang tepat karena masalah adalah bagian dari kehidupan. Jadikanlah kesabaran menjadi moto dalam menjalani kehidupan ini. Seperti yang tertuang dalam Kitab Sarasmuscaya, sloka 95 yang berbunyi sebagai berikut,"Jika ada orang yang berhasil meninggalkan kemarahan hatinya berdasarkan kesabaran, seperti ular yang meninggalkan kulitnya, karena semua itu tidak akan kembali lagi. Orang yang demikian keadaannya disebut berbudi luhur dan patut disebut manusia sejati".

KASIH SAYANG

Rabindranath Tagore, seorang penyair dan filsuf ternama mengajarkan pada kita bahwa, kasih sayang tidak hanya dapat diberikan kepada orang terdekat, tetapi kasih sayang harus kita berikan pada seluruh makhluk hidup. Dan Tuhan adalah intisari dari kasih sayang itu, maka untuk mewujudkan rasa bhakti yang tulus kepada Tuhan hendaknya kita mampu merealisasikan cinta kasih tersebut melalui ciptaannya. Pernyataan Tagore tersebut patut kita renungkan, karena seringkali kita sebagai umat beragama berusaha menjalani ajaran agama dengan baik ( sembahyang, beryadnya, melakukan tirta yatra, dll ). Hal itu tentu tidak salah, namun dalam praktek kehidupan kita sering melupakan hal-hal kecil yang ada disekeliling kita, yaitu menerapkan kasih sayang kepada semua makhluk hidup, tidak peduli kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, kepada orang tua, saudara dan orang-orang terdekatpun terkadang kita sulit menerapkan kasih sayang yang tulus itu. Hanya sedikit ada orang-orang yang mampu melakukan hal itu, karena kita sering dibutakan oleh egoisme dan keangkuhan yang ada dalam diri kita.

Semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua dan dapat membuat kita sadar bahwa, sebagai manusia kita tidak boleh lemah dan putus asa dalam keadaan apapun, kita harus kuat dan memiliki keberanian seperti singa, serta penuh kesabaran dalam menghadapi setiap permasalahan dalam hidup, seperti yang diajarkan oleh Swami VIvekananda. Dan semoga kita mampu menerapkan ajaran dari Rabindranath Tagore, sehingga akan tercipta kedamain dimanapun kita berada.  


Oleh: Ni Wayan Sulastri 
| | 1 comments | Read More

BERTERIMA KASIHLAH KEPADA ORANG TUAMU

Berterima kasihlah untuk semua penderitaan yang telah ibumu jalani. Untuk hampir 9 bulan dia mengandungmu. Dan untuk tetap terjaga setiap beberapa jam di larut malam. Karena engkau merasa lapar atau ngompol atau kecewa dan menangis.

Berterima kasihlah bahwa orang tuamu karena merawatmu, dalam setiap langkahmu. Dan masih tetap menyuapimu, melindungimu dengan atap di atas kepalamu. Meskipun waktu itu engkau membuatnya menyesal. Karena ini adalah jalan dua arah, sebagai anak tidak bisa memilih orang tua mereka, orang tua tidak bisa memilih anak mereka. Mereka mendapatkanmu dan engkau mendapatkan mereka, dan engkau seharusnya menganggap orang tuamu adalah kiriman dari sorga.

Berterima kasihlah bahwa ayahmu pergi bekerja setiap hari, untuk mencoba dan memberikan semua yang kamu perlukan, dia bekerja terus menerus, pulang dengan kurus dan letih, hanya untuk mendengar keluhan dan teriakanmu. Hanya karena tidak mampu mengikuti perkembangan jaman yang terbaru, ketika dia sedang bekerja keras, sedangkan engkau pergi ke sekolah dan pulang bermalas-malasan.

Dia mendapatkan tagihan untuk dibayar, makanan yang harus ada di atas meja, setidaknya engkau harus berusaha semampumu untuk mengerjakan pekerjaan di rumah. Jadi ibumu yang aptut dikasihani karena banyak mengambil pekerjaan untuk menghidupimu sepanjang waktu. Ketika dia menyuruhmu untuk melakukan hal yang kecil, kamu bertindak hal itu seperti sebuah kejahatan.

Jadi, mungkin tidak semua anak-anak seperti itu, namun ini merupakan sebuah kenyataan, bahwa anak-anak memberikan penghargaan yang kurang pada orang tua mereka daripada apa yang mereka berhak dapatkan. ketika seharusnya mereka menganggap orang tua mereka lebih tinggi dari pada Tuhan.


Matha, Pitha, Guru, Thevam.   
Jika kamu cukup beruntung memiliki orang tua, kamu seharusnya menghargai dan mencintai mereka.

Segala sesuatu mungkin tidak selalu sempurna, namun kehidupan itu adalah engkau yang menentukannya.

Keluarga yang berdoa dan tinggal bersama-sama, melakukan segala sesuatu dengan yang lainnya, membangun ikatan tersebut, darah mengalir lebih kental daripada air, adalah lebih baik berubah sekarang daripada menyesal nanti.

Sehingga engkau tidak akan berkata, "Jika saja saya menjadi anak yang lebih baik..."..."Jika saja kami memiliki lebih banyak waktu...."..."Jika saja saya telah merubah jalan saya.....".." Jika saja mereka bisa ada di sini hanya untuk satu hari saja...."..."Jika saja saya telah mengatakan kepada mereka betapa saya mencintai mereka".

Hidup terlalu singkat hanya untuk "Jika saja...". Jadi lakukanlah, jangan menunggu hari esok, untuk bangkit dan memeluk ayahmu, jangan menunggu hari esok, untuk mengatakan " Aku menyayangimu" kepada ibumu. Jangan menunggu hari esok, untuk memperlihatkan kepada mereka betapa besar sebenarnya kamu menghargai mereka. Jangan menunggu hari esok, hari esok mungkin tidak akan datang.

Jangan menunda waktu, untuk ini mungkin berakhir sebelum terlambat. Jangan menunggu sampai waktu tua untuk melakukannya. Dan engkau tidak akan bisa melakukan apapun ketika mereka pisah.

Lakukanlah hal ini sekarang. Katakan hal itu yang harus kamu katakan. Cinta kasih orang tua yang akan mendengarkan kata-kata itu. Perlu untuk merasakan perasaan itu, mereka perlu mengetahui bahwa mereka dicintai oleh anak-anak mereka. Lakukan ini untuk mereka dan untuk dirimu sendiri. Lakukanlah, dan lihat perbedaan yang menakjubkan yang akan terjadi.


Penulis I Nyoman Sumantra, S.Pd
 Guru Bahasa Inggris
Perguruan Nasional Brigjen Katamso, Medan

     

 
| | 6 comments | Read More

KITA SEMUA HINDU SEKARANG

Amerika bukan satu bangsa Kristen. Kita, adalah benar, satu bangsa yang didirikan oleh orang-orang Kristen, dan menurut survei tahun 2008, 76% dari kita terus mengidentifikasikan diri kita sebagai orang Kristen ( tapi itu adalah prosentase terendah dalam sejarah Amerika ). Tentu saja, kita juga bukan satu bangsa Hindu atau Muslim atau Yahudi atau Wiccan. Satu juta lebih orang Hindu hidup di Amerika Serikat, satu bagian kecil dari semilyar yang hidup di muka bumi ini. Tetapi data pengumpulan pendapat (poll) terakhir menunjukkan bahwa secara konseptual, paling tidak, kita secara perlahan-lahan semakin menjadi lebih sebagai orang Hindu dan semakin kurang sebagai orang Kristen tradisional dalam cara-cara kita berpikir tentang Tuhan, diri kita sendiri, hubungan dengan yang lain dan keabadian.

Reg Weda, Pustaka Suci Hindu yang amat kuno, mengatakan ini: "Kebenaran adalah satu, tetapi para MahaRsi menyebutnya dengan banyak nama". Seorang Hindu percaya ada banyak jalan menuju Tuhan. Yoga adalah salah satu jalan, Yesus adalah salah satu jalan lain, Qur'an adalah jalan yang lain lagi. Tidak satupun lebih baik dari yang lain, semuanya sejajar. Orang-orang Kristen yang paling tradisional, paling konservatif tidak pernah diajarkan untuk berpikir seperti itu. Mereka belajar di sekolah Minggu bahwa agama mereka adalah benar, dan yang lain adalah palsu. Yesus berkata, "Aku adalah jalan kebenaran dan hidup. Tidak seorangpun datang kepada Bapa kecuali melalui Aku".


Orang-orang Amerika tidak lagi membeli ( percaya ) dengan hal semacam itu. Menurut survei Pew Forum tahun 2008, 65% dari kita (orang Amerika, red) percaya bahwa "banyak agama dapat membawa kepada kehidupan abadi" , termasuk 37% orang-oramg Evangelikal Putih (kelompok Kristen yang fanatik yang giat melakukan konversi, red), kelompok ini kebanyakn tampaknya percaya bahwa keselamatan adalah bagi mereka sendiri. Juga, jumlah orang-orang yang mencari kebenaran spiritual di luar gereja semakin bertambah. 30% orang Amerika menyebut diri mereka "spiritual, tidak religius", menurut pengumpulan pendapat oleh Newsweek tahun 2009 ini, naik dari 24% di tahun 2005. Stephen Prothero, professor agama di Boston University, sejak lama membingkai kecendrungan orang Amerika untuk "the devine-deli-cafeteria religion" (agama-kafeteria-manisan-suci) sebagai "sangat banyak dalam semangat atau spirit dari agama Hindu". Anda tidak sedang mencomot dan memilih dari agama-agama yang berbeda, karena mereka semua sama, kata Professor tersebut. "Ini bukan mengenai ortodoksi. Ini mengenai apapun yang bekerja/berhasil. Bila pergi ke Yoga berhasi, hebat - dan bila pergi ke Misa Katolik berhasil, hebat. Dan bila pergi ke Misa Katolik ditambah Yoga plus retreat Buddhist berhasil, itupun hebat juga".

Lalu ada pertanyaan tentang apa yang terjadi ketika kita mati. Orang-orang Kristen secara tradisional percaya bahwa badan-badan dan jiwa-jiwa adalah suci, bahwa bersama mereka membentuk sang "diri" dan bahwa pada akhir jaman mereka akan disatukan di dalam Kebangkitan Tubuh (Resurrection). Kamu memerlukan keduanya, dalam kata lain, kamu memerlukan mereka selamanya. Orang-orang Hindu tidak percaya dengan hal semacam itu. pada saat kematian, badan dibakar dalam api kremasi, sementara jiwa - di mana identitas berada (Sang Diri yang sebenarnya, red) - keluar dari badan. Dalam reinkarnasi, salah satu kepercayaan pokok Agama Hindu, sang diri ( jiwa , red ) kembali ke bumi berulang kali dalam badan-badan yang berbeda. Jadi inilah cara lain di mana orang-orang Amerika menjadi lebih Hindu. 24% orang-orang Amerika mengatakan mereka percaya akan reinkarnasi, menurut polling dari Harris Poll tahun 2008.

Demikian agnostiknya kita tentang nasib terakhir dari badan-badan kita bahwa kita membakarnya - seperti orang Hindu - setelah kematian. lebih dari sepertiga orang-orang Amerika sekarang memilih kremasi, menurut Asosiasi Kremasi Amerika Utara ( Cremation Association of North America ), naik dari 6% pada tahun 1975. "Saya sungguh-sungguh berpikir semakin spiritual peran agama cendrung mengurangi penekanan beberapa dari intepretasi yang sangat kasar dari dogma Kebangkitan Tubuh (Resurrection)", kata Diana Eck, seorang professor perbandingan agama di Harvard University.

Jadi marilah kita semua katakan "OM".

Dari "We Are All Hindus Now"
Newsweek 15 Agustus 2009
Oleh : Lisa Miller

Earn Money From Your Website

adsbanger